Total Pageviews

Thursday, November 10, 2011

Agnes Monica - Jaclyn Victor Kolaborasi di SEA Games



Tiga penyanyi perempuan ternama Asia Tenggara akan berkolaborasi pada pembukaan SEA Games XXVI di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (11/11/2011).
"Ada tiga penyanyi terbaik yang akan tampil, Agnes Monica, KC Konception asal Filipina dan Jaclyn Victor asal Malaysia. Ketiga penyanyi itu akan berkolaborasi untuk menghibur dan mengisi acara pembukaan SEA Games nanti," kata pengarah acara pembukaan SEA Games XXVI, Helmi Yahya di Palembang, Selasa (08/11/2011).
Menurut Helmi, Agnes Monica yang merupakan penyanyi muda berbakat asal Indonesia akan menyanyikan theme song SEA Games, bersama kedua penyanyi tersebut.
"Sesuai dengan konsep awal bahwa theme song SEA Games Kita Bisa yang merupakan ciptaan Yovie Widianto akan dinyanyikan oleh Agnes Monica dan kemungkinan besar pada 9 November sudah berada di Palembang untuk latihan bersama," katanya.
Selain Agnes, juga akan menampilkan penyanyi jebolan Indonesian Idol, Judika dan Joy Tobing.
"Konsep acaranya akan dibuat sangat spektakuler, tapi tidak bisa diungkapkan secara jelas karena sifatnya rahasia dan ingin memberikan kejutan kepada penonton," ujar Helmi pula.
Dia menambahkan, selain penyanyi ternama Indonesia, juga melibatkan komposer berpengalaman Erwin Gutawa.
"Saat ini sedang dilakukan latihan pemantapan akhir, setelah sejak 2 November lalu berlatih di Stadion Jakabaring Palembang. Dalam satu atau dua hari ke depan sudah memasuki tahapan gladi resik," ujar dia pula.
Menurut Helmi, properti acara pembukaan telah berada di stadion dan siap digunakan.
"Beragam properti tari telah ada di Jakabaring, seperti kapal, tombak penari, dan lainnya. Selain itu, pembuatan panggung dan sistem pengeras suara juga sudah hampir rampung," kata dia.
Sejumlah pagelaran musik dan tarian-tarian akan ditampilkan pada acara pembukaan dan penutupan SEA Games XXVI, pada 11-22 November 2011.
Beberapa tarian yang akan ditampilkan, di antaranya Sriwijaya-The Golden Peninsula (Alex Hassim), Merajut Nusantara (Dedi Puja), dan Journey Begin Heard Of The City dan Reach Out The Dream (Hartati).
"Saya mengakomodir dua tarian sekaligus, tarian `Journey Begin` akan menjadi pembuka pertunjukan dan `Reach Out` menjadi tarian penutup," ujar Hartati.
Pertunjukan kedua, menurut Hartati, akan menampilkan Heritage merupakan tarian tradisional nusantara yang akan dilatih oleh Alex Hassim.
"Penampilan ketiga, Dedi Puja, sebagai koreografernya akan bertanggung jawab untuk tarian dengan tajuk Merajut Nusantara," ujar dia lagi.
Kota Palembang, Provinsi Sumsel menjadi tuan rumah SEA Games XXVI dengan menggelar 21 cabang olahraga, sekaligus penyelenggara upacara pembukaan dan penutupan.
Pertandingan cabang olahraga lainnya dilaksanakan di Jakarta dan beberapa tempat di Jawa Barat. (antara/dar)

Paris Hilton Berlibur di Bali!



Buat selebriti sekelas Paris Hilton, melanglang buana jelas bukan masalah besar. Setelah sempat berlibur lama di Eropa dan India, kini Paris menyempatkan mengunjungi Indonesia, atau lebih tepatnya Bali. Sayang belum ada informasi soal tujuan Paris ke Bali saat ini. Bisa jadi Paris datang ke Bali karena Jason Mraz.
Sekitar senja tadi, Paris Hilton sempat menginformasikan kalau ia baru saja mendarat di Pulau Dewata. "Just landed in #Bali! So excited to be here for my first time! I've been wanting to come here forever! This is going to be amazing! #YES!" tulis Paris Hilton lewat Twitter.
Dua jam kemudian, Paris sudah berada di hotel tempatnya menginap dan sekali lagi memuji keindahan Bali dan pantainya. "Wow! Love the hotel I'm staying at here in #Bali. Absolutely incredible, total paradise right on the beach. So beautiful! Loves it! #YES!" papar sosialita yang sering terbelit masalah ini.
Tak jelas apakah kunjungan Paris Hilton ke Bali ini ada sangkut pautnya dengan konser bertajuk Jason Mraz Special Accoustic Evening With Toca Rivera yang digelar di Taman Bhagawan Nusa Dua, Bali. Yang jelas, ini adalah kunjungan pertama Paris Hilton ke tanah air. Semoga saja pulang nanti Paris bakal membawa kesan indah tentang Indonesia.
Beberapa waktu yang lalu Paris Hilton sempat berlibur di India dan mengeluhkan kondisi ekonomi di negeri yang indah itu. "India memang indah, tapi beberapa bagiannya masih dilanda kemiskinan. Rasanya sedih sekali melihat bayi-bayi itu tidur di jalanan," tulis Paris lewat akun Twitter-nya saat itu.

Kepuasan The Changcuters Tergantung Servis



Foto oleh Kapanlagi
Layaknya manusia biasa, para personel The Changcuters, Tria, Alda, Qibil, Dipa, dan Erick pun merasa bosan. Popularitas The Changcuters ternyata tidak mampu menangkal rasa bosan mereka.
“Kalau seorang manusia melakukan sesuatu yang rutin, dia pasti bosan. Ya kayak kita sekarang ini,” ujar Tria saat ditemui Yahoo! Indonesia OMG pada Selasa (8/11) siang.

Untuk menepis rasa bosan mereka, The Changcuters memilih mengamen di kawasan Bulungan, Jakarta. Setelah mendatangi beberapa tempat nongkrong, band asal Bandung ini berhasil mendapatkan Rp 32.000 dan satu roti.

“Setelah ngamen, kita dapat pengalaman. Biasanya kan orang akan merasa terganggu jika ada pengamen. Di situ tantangannya. Bagaimana caranya agar saat kita datang, orang tidak terganggu,” ungkap Tria.

Seperti halnya orang kecanduan, The Changcuters ingin terus melakukan tantangan. Tria mengatakan, untuk mengobati rasa bosan mereka, mereka ingin terus mencoba sesuatu yang baru di luar dunia musik sampai mereka puas. Ketika ditanya sampai mana titik puas mereka, mereka mengatakan semua tergantung servis.

Tria menuturkan, “Kepuasan itu kan sebab-akibatnya dari servis.”

The Changcuters ternyata memiliki satu tantangan yang ingin dilakukan, tapi menurut sang vokalis, sudah dilakukan oleh orang lain.

“Mendekati SBY,” kata Tria sembari bercanda.

Demi melepaskan rasa bosan Qibil dan kawan-kawan, para penggemar diperbolehkan untuk mengirimkan tantangan melalui situs Facebook, Twitter, maupun Whatsapp ke The Changcuters.

"Semua tantangan pasti diterima, asal tidak porno,” tegas Erick sang drummer.

Thursday, October 13, 2011

Thirteen Siap Gelar Panggung Launching Album EPIDEMIC .

(Penulis : Rastiaka Atha Hestaviyasa)
Band eksperimental post hardcore, Thirteen akhirnya siap meresmikan album terbaru mereka EPIDEMIC . Hal tesebut tepatnya akan tersaji melalui sebuah panggung launching yang digelar pada hari Sabtu, 22 Oktober 2011 mendatang di The Green, Kemang. Pastinya jangan sampai kelewatan gelaran seru yang dijadwalkan berjalan sejak pukul 19.00 – 21.00 WIB ini. Kalian tinggal datang dan membawa CD asli EPIDEMIC sebagai tanda masuk. So, ketemuan di sana ya!

Friday, August 5, 2011

DAGADU DJOKDJA: BERTAHAN DENGAN “KELOKALITASAN”

Kalau kalian pernah bertandang ke kota Jogja, pastinya kalian pernah mendengar nama Dagadu.

(Penulis : Woro Agustin)
photo by woro
Yap, produk lokal satu ini sudah banyak dikenal oleh para wisatawan domestik. Gimana enggak, selama 17 tahun mereka masih tetap eksis ditengah kemunculan era perdistroan.Dengan mengangkat tema yang berbau lokal, Dagadu mengolahnya menjadi beragam bentuk merchandise, seperti kaos oblong, mug, topi, jaket, sandal, dan produk pernak-pernik lainnya.
Nama Dagadu ini sendiri merupakan bahasa prokem yang menunjukkan lokalitas Jogja. Di era 94, tepat dimana Dagadu meluncurkan produk resminya, di era itu pula di Jogja sedang marak mengolok-olok orang dengan bahasa yang terdengar halus namun sebenarnya memiliki arti yang kasar, yaitu dengan bahasa kebalikan.
Karena produk Dagadu mulai semakin di kenal luas oleh para wisatawan, maka kini semakin banyak ditemukan pula produk Dagadu palsu yang bertebaran di spot-spot tempat wisata Jogja.
“Maka dari itu belilah produk Dagadu Djogdja di gerai-gerai resmi kami,” ujar Junno Mahesa selaku Marcomm Dagadu Djokdja.
Beragam inovasi jelas sudah dilakukan oleh Dagadu hingga bisa bertahan sampai sekarang. Dengan mengangkat tema-tema guyonan sepele yang sering kita temui di Jogja, Junno juga menambahkan,
“Seringkali ide itu muncul dari mana aja, misalkan di sepanjang jalan Malioboro terdapat banyak lesehan. Dari situlah muncul guyonan, pecel lele tanpa lalapan.”
Tak hanya itu saja, banyak kegiatan yang dilakukan oleh Dagadu untuk semakin mendekatkan diri dengan konsumen. Seperti Raceplorer yang mengajak para pengendara sepeda di Jogja untuk berpetualang melintasi sudut kota Jogja. Kumpul Bocah, yang mengajak anak-anak menghabiskan hari Minggu dengan mengolah barang-barang bekas menjadi mainan, pernak-pernik, dsbnya.
Setiap daerah memiliki cerita dan budaya sendiri. Pastinya inilah yang menarik minat wisatawan akan daerah tersebut. Dagadu Djokdja adalah brand cinderamata terbesar di Jogja yang bisa dibilang kita bisa merasakan dan menjadi bagian dari guyonan-guyonan ala orang Jogja dalam setiap produknya.

Crooz Cloth : Dari Band ke Brand

FOTO : BUDI
Crooz. Brand yang satu ini memang patut masuk dalam salah satu produk lokal yang mumpuni. Kurang lebih empat tahun belakangan, namanya terus meroket hingga akhirnya menempatkan clothing line yang satu ini dalam sebuah posisi menjadi brand ternama di industri lokal.
Musik menjadi salah satu inpirasi yang kuat dari brand ini. Sejak kemunculannya pada tahun 2003, panggung musik dan komunitas di dalamnya adalah dua hal yang menjadi konsep dari Crooz sendiri. Dan semuanya terlahir dari sosok yang akrab disapa Max. Kesenangannya dalam dunia musik dan hobi mengkoleksi kaos band nagri menjadi penggerak utama dari apa yang dihasilkannya sekarang ini.
“Gue menggerakan Crooz ini memang berawal dari hobi. Gue doyan ngumpulin kaos band dan masih tergabung di band Sweet As Revenge. Lama menjalani aktifitas itu ujungnya gue sadar kalo order kaos nagri hanya menghabiskan uang dan nggak banyak berarti. Modal nekat gue bikin kaos band gue sendiri dan nggak taunya laku,” papar Max kepada Hai.
Kerja keras yang dilakoninya akhirnya berbuah manis. Kini Crooz telah berkembang pesat menjadi salah satu produk lokal di antara produk lokal kenamaan lainnya. Nggak hanya di Jakarta, nama Crooz juga telah merambah nasional dan menarik minat mereka di daerah lain yang berujung dengan distribusi yang semakin meluas pula. Selain bermarkas di bilangan Duren Tiga, Jakarta Selatan, outlet resmi Crooz juga telah resmi merambah dua kota Bandung dan Malang.
Crooz terlahir dari musik. Kegemaran akan musik dari Max membuat Crooz terus berkembang mengikuti arah musik dan komunitasnya. Satu per satu band didukungnya dan secara nggak langsung Crooz menjadi wadah bagi komunitas musik baik pelaku dan juga pendengarnya.
Hal tersebut memang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Max sendiri. sejak awal bergerak di tahun 2003 lalu, Max memang ingin membentuk sebuah simbiosis mutualisme antara brand dan juga band yang ada.
“Dari banyak panggung musik yang gue jalani, faktanya banyak band lokal yang memang nggak kalah bagus dari luar negeri. Ada potensi yang mereka miliki untuk berkembang dan gue mau Crooz ada di dalam sana. Akhirnya gue membantu memproduksi membuat merchandise untuk mereka dan sebaliknya mereka pun membantu mempromosikannya. Intinya sih saling support,” jelas Max.
Cukup banyak band yang kini dikenal khalayak luas yang pada awalnya berjalan bersama dengan Crooz. Sebut saja seperti Pee Wee Gaskins, Vierra hingga Last Child. Bentuk support dari Crooz nggak hanya itu saja. Di sisi lain banyak hal yang telah digerakan beberapa di antaranya seperti mensuppot panggung komunitas musik, membuat beragam gathering, menggelar tur beberapa kota dan hingga kini membawa musik-musik dari band yang digalanginya untuk timbul di permukaan blantika musik Indonesia hingga mendapatkan sebuah pengakuan tersendiri untuk mereka. Hasilnya malah lebih dari yang dibayangkan. Dengan sendirinya akhirnya Crooz mempunyai komunitasnya sendiri.
“Gue nggak mencoba membentuk komunitas, tetapi mereka ada dengan sendirinya. Ketika mereka terbentuk maka gue hanya mencoba mewadahi mereka. Di Crooz mereka bisa berinteraksi dengan band yang mereka suka dan berinteraksi langsung,” celetuk Max.
Nggak sampai di situ saja, belakangan ini Max cs akhirnya juga menggerakan band-band yang disupportnya untuk lebih didengar di nagri dan terfokus di Asia Tenggara. Malaysia dan Filipina menjadi dua negara yang sukses dirambah oleh Crooz. Nggak hanya soal distribusi barang, tetapi juga band yang mereka gandeng. 
Yap, semuanya bukan soal keuntungan semata, tetapi bagaimana cara kita melihat Crooz menjadi sebuah pergerakan dahsyat yang pada mulanya hanya sebuah passion musik dan kreatif di sekitarnya. Semoga saja dengan apa yang telah diraih Max sejauh ini akan terus menjadi sebuah brand yang terus mensupport band lokal demi kemajuan industri kreatif tanah Air.



Bersama musik lokal Indonesia merambah dunia. 

(Penulis : Rastiaka Atha Hestaviyasa)

Peter Says Denim: Rahasia Suksesnya PSD

 “Faktanya adalah banyak orang Indonesia yang nggak cinta produk lokal."

(Penulis : Agung Budiono)
 Keberhasilan Peter Says Denim (PSD) yang cukup singkat memang bukan hal yang instan. Peter sang founder  sudah melewati tahapan-tahapan sulit tentang bisnis jeans -nya. Mulai dari "kuli" jeans sampai bisa jadi bos jeans.  
 “Semuanya bermula dari pengalaman gue kerja di surfing industry.  Kelar SMA gue langsung kerja di pabrik yang membuat produk seperti Volcom, Globe, hingga Rusty. Dari situ gue belajar produksi mulai dari pemilihan bahan sampai pemasaran. Dan 2005 dengan modal nol rupiah gue berani buat denim namanya Defense. Singkat cerita produknya gagal, sampai akhirnya 2008 bikin PSD. Saat itu gue tanpa modal juga dan mulai belajar dari kesalahan,” cerita cowok bernama lengkap Peter Firmansyah.
 Lewat penguasaan dan pengalaman tentang jeans Peter mulai mengatur strategi pemasaran PSD. Dimulai dengan membaca karakter konsumen lokal. “Faktanya adalah banyak orang Indonesia yang nggak cinta produk lokal. Seleranya masih ke-bule-bulean. Dari situ gue konsep PSD untuk ke pasar Internasional sehingga ketika dipakai bule orang Indonesia jadi bangga,” tambah Peter.
 Mengincar pasar Internasional memang bukan hal yang mudah. Apalagi buat brand  yang baru lahir. Sekadar info saat itu ada sekitar 700 brand clothing yang terdaftar di Bandung. Dan ibaratnya dia yang ke-701. Tapi untungnya dia nggak melebur ke dalam, melainkan keluar dari pemikiran brand lokal untuk jadi sesuatu yang beda. Di sinilah hebatnya seorang Peter Firmansyah. Dia bekerja sesuai passion -nya. 
 “Saat bisa mencapai Kanada dan pasar Amerika banyak yang bilang gue sombong. Senior-senior yang udah terjun di clothing  malah ada yang benci. Tapi gue menanggapi ini dengan santai. Ketika sukses dan bikin sesuatu yang beda pasti ada cobaannya. Padahal banyak yang nggak tau usaha gue itu sulit. Gue belajar jeans itu udah lama, gue main band juga cukup lama. Kasarnya bisa dibilang gue tau jeans  dan gue tau apa yang dibutuhin anak band. Gue pun fight di kehidupan itu. Semuanya gue belajar dari pengalaman,